|
60 Persen Buah Impor Kuasai Pasar Modern |
|
|
|
Kamis, 28 Januari 2010. TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebanyak 60 persen buah-buahan segar yang tersaji di pusat-pusat perbelanjaan modern di seluruh Indonesia diisi oleh produk impor. "Produk buah lokal hanya mampu mengisi 40 persennya," kata Ahmad Dimyati, Direktur Jenderal Holtikultura Departemen Pertanian saat melepas ekspor perdana buah nanas segar Semut Ceyent produksi petani Subang, Kamis (28/1).
Meski begitui, kata Ahmad, dibandingkan dengan produksi buah-buahan segar secara nasional yang pada 2008 mencapai 18 juta ton, jika ditotal berdasrkan angka itu, impor buah-buahan tersebut baru mencapai dua persennya saja. "Belakangan yang paling gencar mengimpor buah yakni Cina dengan jeruknya," kata Ahmad.
Agar pasar dalam negeri tak terjajah oleh produksi impor, ia melanjutkan, petani harus segera melakukan upaya diversifikasi holtikultura. Diversifikasi juga sangat diperlukan buat melakukan terobosan ekspor ke manca negara. Sebab, produk buah-buahan lokal masih bisa bersaing dengan produk luar jika petani sudah mulai melakukan akreditasi lahan dan buah-buahan yang dihasilkannya."Sebab, itulah syarat untuk bisa ekspor," Ahmad menerangkan.
Buah nanas Subang, misalnya, masih bisa melakukan terobosan ekspor ke pasar lain kecuali ke Korea Selatan yang kini tengah dirintisnya. Buah salak, manggis Wanayasa Purwakarta, mangga, dan pisang, masih banyak dibutuhkan oleh berbagai negara kecuali ke negara yang kini sudah dimulai. "Salak kita adalah yang terbaik di dunia," kata Ahmad.
Manggis misalnya, kini sudah diekspor ke Hongkong, Malaysia, Singapura dan Timur Tengah. Buah mangga ke pasar Cina, Timur Tengah, Singapura dan Malaysia. NANANG SUTISNA Sumber: TEMPO interaktif |